Oleh: Annas Bentari
Fondasi utama
manusia beragama adalah rasa percaya atau iman. Iman mengantarkan manusia dalam
tahta tertinggi kepercayaan terhadap Tuhan. Matahari, tata surya, binatang,
tumbuh-tumbuhan, kelahiran manusia, kematian manusia, gejala alam, para nabi,
malaikat, syaitan, dan kehidupan lainnya tidak muncul dan hilang tiba-tiba.
Saya percaya ada sesuatu yang merencanakan dan mendesain kehidupan ini sebegitu
teraturnya dan saling berkaitan satu dan yang lain. Pasti ada Dzat Yang Agung
disana yang menjalankan itu semua. Apakah manusia masih enggan mengakui
keberadaan Dzat Yang Agung itu?
Ketika muncul
pertanyaan “Apakah Anda percaya Tuhan?” maka dengan tegas dan penuh iman saya
akan menjawab “Ya, dengan sepenuh hati, saya iman kepada Tuhan”. Tuhan yang
saya maksud disini adalah Tuhan umat muslim, Allah SWT. Allah SWT adalah Dzat
yang gaib tapi nyata. Gaib dalam bentuk atau wujudnya yang tidak dapat dilihat
oleh mata manusia dan tidak dapat dipegang bahkan dibayangkan sekalipun. Nyata
dalam hal kasih sayang, kekuasaan, dan sifat-sifat keagungan-NYA. Betapa bodoh
manusia yang masih tidak percaya Tuhan. Kenapa saya berkata seperti itu? Bukan
bermaksud memberikan pandangan negative kepada orang-orang yang tidak beragama,
tapi saya hanya ingin mengungkapkan logika-lgika berpikir saya tentang Tuhan.
Seandainya para
atheis itu tidak percaya terhadap Tuhan, berarti mereka tidak meyakini
kehidupan dan segala hal-hal yang berkaitan dengan hal-hal kehidupan. Logikanya
mereka tidak mengakui kehidupan mereka sendiri. Jika para atheis mengakui diri
mereka sebagai manusia tak beragama, itu masih menjadi hal lumrah. Agama hanya
menjadi lingkup kehidupan rohaniah yang setiap individu dapat memaknainya
masing-masing. Ada yang mengatakan agama sebagai ajaran atau kepercayaan dan
pengertian-pengertian yang lain yang mungkin setiap individu bebas
mengartikannya. Tapi jika para atheis tersebut mengaku tak bertuhan, maka
itulah yang patut dipertanyakan. Bagaimana mereka mengakui dirinya sendiri
sebagai makhluk ciptaan? Bagaimana mereka mengakui dirinya sebagai makhluk
hidup jika mereka tidak mengakui Sang Pencipta? Bagaimana mereka merasionalkan
gejala-gejala alam dan kehidupan sebagai bagian dari takdir dan ketentuan
Tuhan? Seakan-akan mereka berjalan hanya di tempat yang buntu jika mereka hidup
tanpa percaya Tuhan. Ketika mereka tidak percaya Tuhan, kenapa mereka masih
percaya kepada unsur-unsur ketuhanan yang lain, seperti makhluk hidup dan
kematian yang tidak lain adalah bagian rencana Tuhan. Bahkan para Yahudi pun
masih mengakui adanya dzat yang agung diluar dimensi kehidupan manusia.
Paragraf di atas
adalah sebatas logika berpikir saya sebagai seorang yang beragama dan bertuhan.
Saya percaya kepada Allah SWT sebagai Tuhan saya. Saya percaya kepada-NYA
dengan cara selalu berusaha mencari keberadaan-NYA dalam sujud saya. Saya
percaya dengan cara berusaha mendekatkan diri kepada-NYA. Tidak ada cara
terbaik untuk mempercayai-NYA kecuali dengan mengimani-NYA dengan segala
kekuasaan-NYA.
Lalu bagaimana saya
mengetahui kehadiran Allah SWT dalam diri saya? Jelasnya, saya tidak dapat
merasakan secara langsung kehadiran Allah SWT dalam diri saya. Tapi saya jelas
meyakini kekuasaan dan cinta-NYA di setiap detik kehidupan saya. Memang sulit
dilogikakan dan dibuat nyata wujud kehadirannya. Mungkin keyakinan saya tidak
berdasar. Tapi sebagi umat muslim, saya meyakini Al-Quran sebagai wahyu Tuhan
yang jelas merupakan wujud kehadiran Tuhan yang nyata dalam diri saya.
Penginderaan kita sebagai manusia tidaklah mampu menangkap wujud Tuhan yang
sebenarnya. Bahkan pikiran kita pun sebagai manusia tidak dapat mencapai
bukti-bukti kekuasaan Tuhan melalui gejala-gejala alam yang terjadi di sekitar
kita. Alangkah arifnya kita sebagai manusia tetap meyakini dengan sepenuh hati
akan keberadaan Tuhan sebagai Dzat Yang Agung tanpa merusak dengan
mempertanyakan keberadaan dan mencari-cari wujud-NYA.

0 komentar:
Posting Komentar