Pages

Interested Time of Mine

Selasa, 06 Desember 2011

Assessment “as”, “for”, “of” Learning


By: Annas Bentari
“HARD”. That was a morpheme that I could say to mean the differences among assessment as learning, for learning, and of learning. Those have their own characteristics and specification. Actually, I suppose that it should have additional class or perhaps needed additional subject to learn about this lesson. However, I think, Mrs.Mima had applied an instructional learning to teach about assessment. Mrs. Mima was like using group-interaction to show that in reading task, it would be better if all students were brave to express their comprehensive reading skill. Since I think that the material of assessment lesson is so much, then group sharing will help us understanding the meaning inside. 
I have a little note for class that what we have learned on PETA is our capital to go to the field later and we need to have a critical thinking to learn it. That’s why I have a bit suggestion for my beloved friends to be as if you are a teacher that will use those lesson’s theories in our teaching later. So, we will think hard to get our best I this course.
Now, I am trying to reflect it into my practice teaching during school experience and when I give a course to my private student. I try to apply what I have learned in PETA class, like how to use direct instruction to teach science lesson. My student was boring hearing my explanation. Even I know that he didn’t read the material before, however it still becomes my fault since I couldn’t find a new strategy to teach. Then, day after day I thought that what I have been learning in PETA class should be explored more and more.
Last words, designing assessment and determining assessment are not simple. Sometimes we have to see that assessment as training for students or strategy for teachers to enhance students’ understanding of the lesson. I want to learn about the differences assessment as, for, and of learning. Those are so confusing in the first time to distinguish among those. However, the most interesting sentence is coming from Mrs. Mima where the point is assessment will be less without suitable instructional teaching.
In short, I want to have an additional time to understand about what the differences among those kinds of assessment are.
  

Senin, 05 Desember 2011

Bertuhan atau Beragama?



Oleh: Annas Bentari

 Fondasi utama manusia beragama adalah rasa percaya atau iman. Iman mengantarkan manusia dalam tahta tertinggi kepercayaan terhadap Tuhan. Matahari, tata surya, binatang, tumbuh-tumbuhan, kelahiran manusia, kematian manusia, gejala alam, para nabi, malaikat, syaitan, dan kehidupan lainnya tidak muncul dan hilang tiba-tiba. Saya percaya ada sesuatu yang merencanakan dan mendesain kehidupan ini sebegitu teraturnya dan saling berkaitan satu dan yang lain. Pasti ada Dzat Yang Agung disana yang menjalankan itu semua. Apakah manusia masih enggan mengakui keberadaan Dzat Yang Agung itu?

Ketika muncul pertanyaan “Apakah Anda percaya Tuhan?” maka dengan tegas dan penuh iman saya akan menjawab “Ya, dengan sepenuh hati, saya iman kepada Tuhan”. Tuhan yang saya maksud disini adalah Tuhan umat muslim, Allah SWT. Allah SWT adalah Dzat yang gaib tapi nyata. Gaib dalam bentuk atau wujudnya yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia dan tidak dapat dipegang bahkan dibayangkan sekalipun. Nyata dalam hal kasih sayang, kekuasaan, dan sifat-sifat keagungan-NYA. Betapa bodoh manusia yang masih tidak percaya Tuhan. Kenapa saya berkata seperti itu? Bukan bermaksud memberikan pandangan negative kepada orang-orang yang tidak beragama, tapi saya hanya ingin mengungkapkan logika-lgika berpikir saya tentang Tuhan.

Seandainya para atheis itu tidak percaya terhadap Tuhan, berarti mereka tidak meyakini kehidupan dan segala hal-hal yang berkaitan dengan hal-hal kehidupan. Logikanya mereka tidak mengakui kehidupan mereka sendiri. Jika para atheis mengakui diri mereka sebagai manusia tak beragama, itu masih menjadi hal lumrah. Agama hanya menjadi lingkup kehidupan rohaniah yang setiap individu dapat memaknainya masing-masing. Ada yang mengatakan agama sebagai ajaran atau kepercayaan dan pengertian-pengertian yang lain yang mungkin setiap individu bebas mengartikannya. Tapi jika para atheis tersebut mengaku tak bertuhan, maka itulah yang patut dipertanyakan. Bagaimana mereka mengakui dirinya sendiri sebagai makhluk ciptaan? Bagaimana mereka mengakui dirinya sebagai makhluk hidup jika mereka tidak mengakui Sang Pencipta? Bagaimana mereka merasionalkan gejala-gejala alam dan kehidupan sebagai bagian dari takdir dan ketentuan Tuhan? Seakan-akan mereka berjalan hanya di tempat yang buntu jika mereka hidup tanpa percaya Tuhan. Ketika mereka tidak percaya Tuhan, kenapa mereka masih percaya kepada unsur-unsur ketuhanan yang lain, seperti makhluk hidup dan kematian yang tidak lain adalah bagian rencana Tuhan. Bahkan para Yahudi pun masih mengakui adanya dzat yang agung diluar dimensi kehidupan manusia. 

Paragraf di atas adalah sebatas logika berpikir saya sebagai seorang yang beragama dan bertuhan. Saya percaya kepada Allah SWT sebagai Tuhan saya. Saya percaya kepada-NYA dengan cara selalu berusaha mencari keberadaan-NYA dalam sujud saya. Saya percaya dengan cara berusaha mendekatkan diri kepada-NYA. Tidak ada cara terbaik untuk mempercayai-NYA kecuali dengan mengimani-NYA dengan segala kekuasaan-NYA. 

Lalu bagaimana saya mengetahui kehadiran Allah SWT dalam diri saya? Jelasnya, saya tidak dapat merasakan secara langsung kehadiran Allah SWT dalam diri saya. Tapi saya jelas meyakini kekuasaan dan cinta-NYA di setiap detik kehidupan saya. Memang sulit dilogikakan dan dibuat nyata wujud kehadirannya. Mungkin keyakinan saya tidak berdasar. Tapi sebagi umat muslim, saya meyakini Al-Quran sebagai wahyu Tuhan yang jelas merupakan wujud kehadiran Tuhan yang nyata dalam diri saya. Penginderaan kita sebagai manusia tidaklah mampu menangkap wujud Tuhan yang sebenarnya. Bahkan pikiran kita pun sebagai manusia tidak dapat mencapai bukti-bukti kekuasaan Tuhan melalui gejala-gejala alam yang terjadi di sekitar kita. Alangkah arifnya kita sebagai manusia tetap meyakini dengan sepenuh hati akan keberadaan Tuhan sebagai Dzat Yang Agung tanpa merusak dengan mempertanyakan keberadaan dan mencari-cari wujud-NYA.